SINGARAJA, ELANGBALI.COM – Hujan yang turun tanpa henti pada Minggu (11/1/2026) sore membawa duka mendalam bagi sebuah keluarga sederhana di kawasan Turyapada Tower, Desa Adat Amerta Sari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Di balik derasnya air yang mengguyur lereng-lereng bukit, bencana perlahan mengintai dan akhirnya datang tanpa aba-aba. Tanah yang tak lagi mampu menahan beban runtuh, menyeret material longsor ke bawah dan menimbun rumah warga yang tak berdaya.
Satu unit rumah milik I Kadek Ribek luluh lantak diterjang longsoran tanah dan bebatuan. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh, tempat berkumpul, dan saksi kehidupan sebuah keluarga, mendadak berubah menjadi puing-puing dalam hitungan menit. Dinding roboh, atap ambruk, dan lumpur menutup hampir seluruh bagian bangunan. Kesedihan tak terelakkan, meski di tengah tragedi ini, Tuhan masih memberi perlindungan—tidak ada korban jiwa dalam peristiwa memilukan tersebut.
Menurut keterangan Kepala Dinas Kominfos Provinsi Bali, Gede Pramana, kawasan Turyapada hingga kini masih berada dalam tahap pekerjaan lanjutan pembangunan dan dikenal sebagai wilayah rawan longsor. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Sukasada selama beberapa jam membuat struktur tanah menjadi labil. Longsor terjadi di badan jalan selebar kurang lebih tiga meter, tepat di atas rumah korban. Material tanah dan batu yang runtuh menutup akses jalan sekaligus menimpa rumah yang berada persis di bawahnya.
Saat peristiwa terjadi, rumah tersebut dihuni oleh satu keluarga. Bayangkan kepanikan yang mencekam ketika suara gemuruh tanah runtuh memecah hujan dan sunyi sore. Detik-detik menyelamatkan diri menjadi perjuangan antara hidup dan mati. Mereka harus bergegas keluar, meninggalkan harta benda yang selama ini dikumpulkan dengan kerja keras bertahun-tahun.
Kini, yang tersisa hanyalah rasa syok, ketakutan, dan kesedihan mendalam. Rumah yang hancur bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kehidupan yang runtuh. Setiap sudut puing menyimpan kenangan—tawa anak-anak, doa-doa malam, dan harapan sederhana untuk hidup tenang di bawah lereng bukit.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa pembangunan di kawasan rawan bencana harus dibarengi dengan mitigasi yang serius dan perlindungan nyata bagi warga sekitar. Di tengah megahnya proyek Turyapada Tower, ada tangis sunyi warga kecil yang harus menanggung risiko paling besar.
Malam di Desa Adat Amerta Sari pun terasa lebih dingin. Di bawah rintik hujan yang masih menyisakan lembap tanah, keluarga I Kadek Ribek harus menata ulang hidup mereka dari nol—dengan luka di hati, trauma yang membekas, dan harapan agar musibah serupa tak lagi merenggut rasa aman warga lain di kemudian hari.
( dd99 )







