DENPASAR, ELANGBALI.COM – Kota yang selalu menawan di mata siapa pun yang datang. Jalan-jalan tertata rapi, taman hijau terpelihara, trotoar bersih, dan aroma kesejukan dari pepohonan yang ditanam dengan penuh perhatian. Bali, khususnya ibu kotanya ini, sering disebut sebagai miniatur surga. Tapi di balik keindahan yang menenangkan itu, ada sisi lain yang membuat hati terasa berat potret kesenjangan yang diam-diam meneteskan air mata kemanusiaan.
Di perempatan Tohpati, yang menjadi salah satu simpul sibuk lalu lintas Denpasar, ada pemandangan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Di antara deru kendaraan dan warna-warni lampu lalu lintas, berdirilah mereka manusia-manusia kecil yang menunggu uluran tangan. Ada ibu yang menggendong anak kecil sambil menyanyikan lagu lirih yang hampir tak terdengar. Ada anak remaja yang berjalan di antara mobil, menjajakan tisu dengan wajah penuh harap. Ada pula bapak tua yang duduk bersila di pinggir jalan, menatap kosong ke arah masa depan yang entah seperti apa.
Setiap kali lampu merah menyala, hati ini ikut berhenti. Ada rasa iba, ada perih yang tak bisa dijelaskan. Di tengah tanah Bali yang kaya budaya, spiritualitas, dan ekonomi pariwisata, mengapa masih ada saudara kita yang hidupnya bergantung pada belas kasihan? Padahal mereka bukan tidak mau bekerja sering kali keadaanlah yang memaksa mereka. Tapi di balik itu, muncul pula pertanyaan yang lebih menyesakkan: apakah mereka benar-benar datang dengan kehendak sendiri, atau ada yang menyuruh, mengatur, bahkan memanfaatkan mereka untuk mencari keuntungan?
Jika benar ada pihak yangy menyuruh anak, keluarga, atau bahkan orang lain untuk meminta-minta di jalanan, itu bukan lagi sekadar tindakan tidak terpuji itu pelanggaran moral dan kemanusiaan. Menjadikan kemiskinan sebagai alat untuk mengemis belas kasihan adalah bentuk keputusasaan yang mestinya tidak boleh dibiarkan tumbuh di bumi seindah ini.
Pemerintah Kota Denpasar dan seluruh elemen masyarakat seharusnya tidak menutup mata. Mereka yang meminta-minta bukan untuk diusir, melainkan untuk disentuh hatinya, dibimbing pikirannya, dan dibukakan jalannya agar dapat hidup lebih bermartabat. Mungkin sebagian dari mereka kehilangan pekerjaan, tak punya keluarga, atau sekadar butuh uluran tangan agar bisa berdiri kembali.
Sudah waktunya Bali tanah yang disebut pulau seribu pura juga menjadi pulau seribu kepedulian. Bukan hanya pada turis dan keindahan destinasi, tetapi juga pada warganya sendiri yang sedang berjuang dalam kesunyian.
Karena di balik indahnya taman kota dan gemerlap cahaya Denpasar, masih ada sudut kecil di perempatan Tohpati tempat kemanusiaan diuji antara yang memberi dan yang menanti, antara yang berlimpah dan yang kehilangan.
Semoga suatu hari nanti, tak ada lagi tangan kecil yang menengadah di bawah lampu merah. Yang ada hanya tawa, kerja keras, dan kehidupan yang lebih layak bagi semua agar Bali benar-benar menjadi surga, bukan hanya bagi wisatawan, tapi juga bagi mereka yang kini masih bertahan di pinggir jalan.
( dede99 )







