Badung – Polemik pembangunan sebuah rumah sakit yang berlokasi di kawasan Banjar Pipitan, Desa Canggu, Kabupaten Badung, terus menjadi sorotan publik. Isu dugaan adanya suap sebesar Rp500 juta kepada pemangku setempat sempat mencuat dan memantik berbagai spekulasi di masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, awak media melakukan konfirmasi langsung kepada dr. Ni Putu Grace Lande, MARS, MH, yang diketahui sebagai salah satu pemegang saham sekaligus konsultan dalam proyek pembangunan rumah sakit tersebut.
Dalam keterangannya, dr. Grace Lande menegaskan bahwa isu mengenai adanya suap kepada pemangku Pura Batur Pipitan sama sekali tidak benar. Ia menyebut sejak awal proses pembangunan, pihaknya telah menjalankan seluruh prosedur sesuai aturan yang berlaku.
Menurutnya, pemangku Pura Batur Pipitan Canggu atas nama I Nengah Sudarsana justru merupakan pihak yang melakukan prosesi ngeruwak atau ritual awal pembukaan lahan sebelum pembangunan dimulai. Prosesi tersebut dilakukan sebagai bagian dari penghormatan terhadap adat dan tradisi Bali sebelum sebuah bangunan didirikan.
“Dari awal Jro Mangku Nengah Sudarsana sudah mengetahui bahwa di lokasi tersebut akan dibangun rumah sakit. Bahkan beliau sendiri yang melakukan prosesi ngeruwak tanah. Jadi kalau sekarang muncul pihak-pihak yang tidak menerima, kami juga bertanya-tanya kenapa baru muncul sekarang,” ujar dr. Grace saat ditemui awak media.
Ia menegaskan bahwa seluruh perizinan pembangunan telah ditempuh secara resmi dan sesuai prosedur. Mulai dari Izin Tata Ruang (ITR) hingga Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) disebutnya sudah keluar dan diproses melalui jalur administrasi yang sah.
“Perizinan kami lengkap. ITR sudah ada, KKPR juga sudah keluar. Semua melalui mekanisme resmi pemerintah. Jadi tidak ada alasan untuk melakukan praktik suap,” tegasnya.
Terkait tudingan adanya pemberian uang sebesar Rp500 juta kepada pemangku pura, dr. Grace secara tegas membantahnya.
“Tidak ada nyogok Rp500 juta kepada Jro Mangku. Izin kami sudah lengkap, untuk apa saya harus menyogok sebesar itu,” katanya dengan nada tegas.
Di sela perbincangan, dr. Grace yang dikenal berpenampilan khas dengan tato di beberapa bagian tubuhnya juga sempat berbagi cerita singkat mengenai latar belakang keluarganya. Ia menyebut memiliki akar keluarga dari dua daerah berbeda di Indonesia.
“Ayah saya berasal dari Penarungan, Mengwi, Bali. Sedangkan ibu saya dari Ende, Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya singkat.
Ia menegaskan bahwa pembangunan rumah sakit tersebut bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat serta menunjang kebutuhan fasilitas medis di kawasan yang terus berkembang pesat seperti Canggu dan sekitarnya.
Namun demikian, polemik mengenai kedekatan lokasi pembangunan rumah sakit dengan tembok Pura Batur Pipitan masih menjadi perhatian sebagian masyarakat, terutama dari sisi norma, estetika, dan nilai-nilai kesucian kawasan pura yang selama ini dijaga oleh krama adat setempat.
Sejumlah pihak berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara terbuka, transparan, dan mengedepankan musyawarah antara pihak investor, pengempon pura, desa adat, serta pemerintah daerah agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Catatan Redaksi:
Media ini menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab bagi semua pihak sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan atau ingin memberikan klarifikasi, redaksi membuka ruang hak jawab secara proporsional.
( dd99 )







