ACEH, ELANGBALI.COM – Siapa sebenarnya kolonel muda ini? Mengapa langkah tegasnya justru menuai apresiasi luas di Tanah Rencong?
Nama Kolonel Inf Ali Imran belakangan menjadi sorotan publik Aceh dan nasional. Perwira menengah TNI Angkatan Darat ini dikenal sebagai Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, sosok putra asli Aceh yang berani, tegas, namun tetap komunikatif dalam menjaga stabilitas keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perhatian publik tertuju ketika Kolonel Ali Imran bersikap tegas membubarkan aksi sekelompok orang yang membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk ketegasan negara dalam menjaga perdamaian Aceh pasca-MoU Helsinki, sekaligus sinyal kuat bahwa simbol-simbol separatisme tidak memiliki ruang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menariknya, ketegasan itu datang dari seorang putra daerah Aceh sendiri—bukan dari luar. Hal inilah yang membuat sosok Kolonel Ali Imran mendapat perhatian khusus, bahkan apresiasi luas dari berbagai kalangan masyarakat.
Putra Asli Aceh dengan Karier Militer Cemerlang
Kolonel Inf Ali Imran lahir di Banda Aceh pada 9 Juni 1978. Ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2000, dan dikenal memiliki rekam jejak karier yang solid serta teruji di berbagai satuan strategis.
Saat dilantik sebagai Danrem 011/Lilawangsa pada April 2024, Kolonel Ali Imran tercatat sebagai salah satu Danrem termuda di Indonesia. Usia muda tidak menjadi penghalang, justru menjadi modal energi dan ketegasan dalam memimpin wilayah teritorial yang memiliki kompleksitas sosial dan sejarah panjang seperti Aceh.
Darah Kopassus, Mental Intelijen
Jejak karier Kolonel Ali Imran tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia lama bertugas di Korps Baret Merah (Kopassus)—satuan elite TNI AD yang dikenal dengan disiplin tinggi, loyalitas tanpa kompromi, dan keberanian dalam situasi paling genting.
Tak hanya itu, ia juga pernah mengemban tugas penting di:
Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden)
BAIS TNI (Badan Intelijen Strategis)
Dandim 0506/Tangerang, wilayah strategis penyangga Ibu Kota
Kepala PII Pusintelad, jabatan intelijen Angkatan Darat sebelum menjabat Danrem
Kombinasi latar belakang tempur, intelijen, dan teritorial inilah yang membentuk karakter kepemimpinan Kolonel Ali Imran: tegas dalam prinsip, cepat dalam bertindak, namun cermat dalam membaca situasi.
Tegas terhadap Simbol Separatisme, Humanis kepada Rakyat
Sikap tegas Kolonel Ali Imran terhadap aksi pembawa bendera GAM dipandang sebagai langkah konstitusional dan profesional, bukan represif. Sebagai Danrem, ia menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara, sekaligus memastikan bahwa perdamaian Aceh tidak dirusak oleh provokasi simbolik yang berpotensi memicu konflik baru.
Namun di sisi lain, Kolonel Ali Imran dikenal sangat humanis terhadap masyarakat. Ia kerap membangun komunikasi intens dengan tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda Aceh. Pendekatan ini membuat kebijakannya mudah diterima, bahkan ketika harus mengambil langkah tegas.
Turun Langsung Tangani Bencana
Di tengah ketegasan menjaga keamanan, Kolonel Ali Imran juga menunjukkan wajah lain kepemimpinannya: pemimpin yang hadir saat rakyat membutuhkan.
Pada Desember 2025, ia turun langsung memimpin penanggulangan bencana banjir bandang di wilayah Sawang, Aceh Utara, dan sekitarnya. Ia terjun ke lapangan, menyalurkan bantuan, memimpin evakuasi warga, serta menginstruksikan seluruh jajaran Kodim di wilayah pantai timur–utara Aceh untuk siaga penuh.
Perannya juga krusial dalam pembersihan material longsor di jalur vital Jalan Nasional Bireuen–Takengon, memastikan akses logistik dan mobilitas warga kembali normal.
Putra Aceh Penjaga Aceh
Kolonel Inf Ali Imran hari ini dipandang sebagai simbol putra Aceh yang menjaga Aceh—menjaga kedamaian, menjaga persatuan, dan menjaga rakyatnya. Ketegasannya terhadap simbol separatisme berjalan seiring dengan kepeduliannya terhadap penderitaan masyarakat.
Di tengah dinamika Aceh pascakonflik, sosok seperti Kolonel Ali Imran menjadi penting: pemimpin yang memahami sejarah daerahnya, mencintai rakyatnya, namun tetap berdiri tegak membela NKRI tanpa kompromi.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa Kolonel Ali Imran, melainkan sejauh mana negara memberi ruang bagi perwira-perwira muda, berintegritas, dan berani seperti dirinya untuk terus menjaga Indonesia dari pinggiran.
( dd99 )







